Minggu, 10 Februari 2019

Etika Guru Menutut Kitab Salaf




Adab / Etika Guru- Imam al-Haddad berkata “Seorang berilmu tidak akan bisa merasakan lezatnya ilmu sebelum dia menempa jiwa dan akhlaknya sehingga lurus sesuai al-kitab dan as-sunnah, serta mencampakkan keinginan untuk meraih kekuasaan di bawah telapak kakinya.”
 Diantara etika guru adalah:
1      Inshaf (adil dan obyektif) mengaku salah bila ada yang memberitahu yang benar. Imam malik berkata “di zaman kita ini, tidak ada yang lebih langka dibanding inshaf”
2      Tidak malu untuk mengatakan”la adri (saya tidak tahu) atau wallahu a’lam (allah lebih tahu)” ketika ia ditanya perihal sesuatuyang tidak diketahuinya.
3      Cendrung menghindari dari memberi fatwa.
Ibnu masud dan ibnu abbas berkata “barangsiapa yang memberi fatwa atas segala persoalan yang ditnyakan kepadanya, maka ia gila”
4      Memandang remeh dan menjaga jarak dari dunia
Ibnu mas’ud berkata “andai saja para pengemban ilmu itu menjga ilmunya dan hanya menempatkannya kepada orang-orang yangtepat, niscaya mereka akan memimpin orang-orang yang hidup sezaman dengan mereka. Namun mereka menukarkan ilmu mereka kepada penguasa dunia, dengan harapan memperoleh sebagian dari dunia mereka, hingga mereka pun menjadi remeh di mata orang-orang yang (sebenarnya layak menerima ilmu)”


5      Rendah hati (tawaddu’) baik dalam kondisi sendiri maupun di hadapan orang lain.
Said bin Jubair berkata “ seseorang itu senantiasa menjadi orang berilmu (alim) selama ia mau terus belajar. Jika ia sudah tidak mau belajar lagi, dan menyangka bahwa dirinya telah berkelimpahan serta cukup dengan ilmu yang dimilikinya, maka ia adalah orang terbodoh diantara semua mahluk yang ada.”
6      Tidak suka berdebat dan bantah bantahan
Sufyan bin Uyainah berkata ;”seorang alim itu tidak suka mendebat dan bermanis-manis muka (tidak suka menjilat). Dan akan menyebarkan hikmah; bila diterima dia akan memuji allah, dan bila ditolak diapun tetap memuji allah”
7      Bersikap simpatik dan penuh kasih sayang kepada para pencari ilmu adalah etika guru yang terakhir
Imam an-nawawi berkata, “Di anjurkan bagi seorang guru agar bersikap simpatik kepada murid dan berbuat baik kepadanya semaksimal mungkin”

Inilah etika yang harus dimiliki seorang guru dalam mendidik peserta didiknya agar mendapatkan ilmu yang manfaat dan barakah. Sebagai guru, memang tidak boleh semena-mena menyampaikan materi pembelajaran kepada muridnya. Sebelum itu dilaksanakan, seorang guru haruslah mawas diri dan menghiasi diri dengan sifat-sifat yang terpuji seperti yang disebutkan. Bukan hanya terhadap peserta didik, namun juga kepada wali peserta didik.

Disadur dari kitab Minhaj as-Sawi, hal. 195


Senin, 04 Februari 2019

Hukum Ramai Ramai di Masjid dan adab / Tatakrama di dalam Masjid



                hukum ramai-ramai- Masjid  adalah  tempat beribadah  kepada Allah SWT seperti  sholat, berdzikir, membaca al-Quran, dan lainnya. Selain itu kita tahu, bahwa  masuk dan keluar  dari masjid  memiliki adab /tatak rama tersendiri, hal itu tidak lain karena bentuk penghormatan kita kepada rumah sang ilahi.
            Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa sesuatu yang tidak layak dilakukan di masjid  sekarang malah sudah banyak terjadi. Contoh ramai-ramai di masjid, makan-makan, ngobrol hal-hal yang tidak berguna, tidur didalam masjid. Dan tidak jarang rupanya, hal-hal tadi juga malah menggangu kepada orang yang sedang sholat ataupun yang sedang menjalankan aktivitas ibadah yang lainnya. Akhirnya, banyak dari kalangan ta’mir masjid membuat sebuah peraturan yang melarang semua itu. Sampai-sampai  ada dari sebagian orang yang sholat disana berkata: ”lebih baik saya ibadah dirumah dari pada dimasjid tapi tidak khusyu’ karna terlalu ramai.
            Selain itu, masjid sekarang juga banyak fungsikan untuk selain sholat. Misalnya; digunakan untuk tahlilan, haul, majlis ta’lim dan dizkir dan lain-lain. Dari hal-hal tadi terkadang membuat resah orang yang sedang sholat, karena tempat yang sempit dan mereka merasa terganggu.

Baca Juga; Etika Guru Menurut Ulama Salaf

            Dalam menyikapi masalah-masalah diatas menurut kaca mata fikih, sebenarnya bagaimanakah hukum ramai-ramai, ngobrol atau bercanda, makan-makan, dan tidur didalam masjid, kemudian bagaimana jika hal-hal tadi sampai mengganggu pada orang yang sedang sholat atau menjalankan aktivitas ibadah yang lainnya, dan apakah  melaksanakan tahlilan, istighostah,  pengajian al-Quran didalam masjid dilegalkan oleh syariat, mengingat masjid diwakafkan untuk orang sholat saja ?. Dan bagaimana jika perkara tadi dapat mempersempit dan mengagangu orang yang sedang sholat?.
            Pada dasarnya ramai-ramai di masjid seperti; ngobrol hal-hal yang tidak layak untuk diperbincangkan didalam masjid , makan-makan dan tidur hukumnya  boleh hanya saja untuk dua contoh yang terakhir hukumnya bisa berubah menjadi haram ketika dapat mengotori masjid. Namun,  ketika melihat masalah ini  melewati kaca mata adab dan tatak rama maka dianjurkan untuk menjahui prilaku tersebut karna termasuk min babi su’il adab ( prilaku yang jelek ).
            Sebenarnya,3 prilaku diatas hukumnya boleh ketika memenuhi beberapa pertimbanagan sebagai berikut:
a) jika semua prilaku tersebut tidak dilarang oleh ta’mir masjid, karna mematuhi peraturan yang ditetapkan oleh ta’mir hukumnya wajib layaknya mematuhi perintah dan larangan dari sulthon atau imam. Ta’mir masjid  setara dengan sulthon atau imam karena sama-sama termasuk ulil amri ( pengurus untuk ummat muslim ).
b) jika prilaku-prilaku tersebut tidak mengganggu kepada orang yang sedang sholat. Adapun kalau mangganggu maka hukumnya makruh bahkan bisa haram ketika sampai menyakiti hati mereka .
Sedangkan  hukum menyelenggarakan  pengajian, tahlil, dan acara-acara islam lainnya di masjid hukumnya boleh  karna termasuk min babi imarotil masjid ( meramaikan masjid dengan ibadah ), selagi  tidak mengganggu pada manfaat awal dari masjid yaitu sholat. Adapun kalau acara-acara diatas dapat mengganggu  pada orang  yang  sholat  atau mempersempit  tempat mereka maka hukumnya adalah makruh.   
Refrensi: Bugyahtul Mustarsyidin




     
               
                        

Jumat, 01 Februari 2019

Geleng geleng Ketika Dzikir beserta dalilnya




Geleng geleng Ketika Dzikir-Z ikir adalah wasilah seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada sang Maha Pencipta, para ulama  tidak hanya mengandalkan ilmu yang sudah mereka kuasai, akan tetapi juga memperhatikan ibadah dan kebersihan hati untuk tambah dekat dengan Allah SWT. Karenanya, banyak bermunculan majlis dzikir yang sangat di minati oleh banyak kalangan, seperti Manaqiban, Thariqoh dan semacamnya. Begitu juga salawat, dzikir yang menggunakan salawat memiliki kelebihan dari pada dzikir yang lain, karena dengan bersalawat berarti yang di buat wasilah pada Allah adalah makluk yang sangat di cintainya, yaitu Nabi Muhammad SAW. Hanya saja jika malihat cara dzikir yang berlaku di tengah masyarakat ada beberapa hal yang samar dan membuat penasaran mengenai hukumnya, yaitu bergeleng geleng ketika dzikir, baik itu salawat atau yang lain. Tidak jarang kita temukan praktek semacam ini di lingkungan awam bahkan dikalangan santri sekalipun. Lantas bagaimana sebenarnya hukum dari praktek seperti di atas? Berikut pendapat ulama mengenai dalil dari hal tersebut (menggrerakkan kepala saat dzikir):

Anjuran Dzikir Dalam Al-Quran

Allah SWT berfirman:

اَلّذَيِنَ يَذْكُرُوْنَ اللهَ قِيَامَا وَقُعُوْدًا وَعَلَى جُنُوْبِهِمْ... الاية ( ال عمران )

“ Yaitu otrang-orang yang berdzikir pada Allah dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring”

Jika kita berfikir sejenak mengenai firman Allah di atas, maka bisa kita ketahui bahwa bergerak ketika berdzikir boleh secara syara’, bahkan ayat di atas mengindikasikan dianjurkannya berdzikir setiap waktu dalam keadaan berdiri, duduk dan berbaring. Terlebih dalam Ushul al-Fiqh di jelaskan:

عموم الاشخاص يقتضي عموم الاحوال والازمنة و البقاع

Maksudnya: keumuman pengguna atau pelaku menunjukkan keumuman keadaan, waktu dan tempatnya. Ayat diatas di tunjukkan pada semua orang (umum), maka juga menunjukkan pada kepada umumnya keadaan, maksudnya untuk berdzikir seseorang bebas melakukannya dalam keadaan apapun, begitu juga waktu dan tempatnya.

Menurut Perspektif Tafsir

Dalam Surat al-Ahzab Allah juga berfirman:

وَالَّذاكِرِيْنَ اللهَ كَثِيْرًا وَالّذَاكِرَاتِ....الاية ( الاحزاب )

“Dan orang-orang yang sering berdzikir pada Allah dari laki-laki dan perempuan”

Mengenai firman Allah di atas Ibnu Abbas berkata: bahwa Allah tidaklah mewajibkan atas hambanya sebuah kewajiban, melainkan telah menentukan waktu khusus untuknya, dan tidak boleh di tinggalkan kecuali ada udzur syari’ seperti shalat, puasa dan lainnya. Berbeda dengan dzikir, Allah SWT mewajibkan hambanya berdzikir, tetapi tidak menentukan waktu khusus untuk dzikir, dan tidak boleh di tinggalkan meskipun ada udzur kecuali udzur berupa: tidak berakal. kesimpulannya berdzikir itu wajib di setiap keadaan.

Maka dari penjelasan ulama di atas bisa di simpulkan bahwa bergeleng-geleng ketika dzikir hukumnya boleh. Akan tetapi jika berpotensi pada tidak khusyuk, maka yang lebih utama tidak bergeleng-geleg. kita berdoa agar kita dijadikan hamba yang khusu'. Wallahu A’lam

Lihat: fatawa al-Kholiliy Ala Madzhab asy-Syafi’i



Kamis, 31 Januari 2019

Doa Ketika Galau



galau bisa terjadi ketika seseorang mengalami suatu masalah yang tentunya tidak ia inginkan seperti gagal meraih yang ia inginkan, dan yang tak kalah hebatnya yaitu ketiika putus cinta.
maka untuk menghindari sesuatu yang tidak di inginkan maka orang yang galau di anjurkan membaca doa di bawah ini


الهم ارزقني حبك وحب من ينفعني حبه عندك اللهم مرزقتني مما احب فجعله قوة لي فيما تحب

اللهم وم زويت عني مما احب فجعله فرغا لي فيما تحب

Artinya: ya allah berikanlah aku cintamu dan cinta yg bermanfaat padaku disisimu
Yaallah berikanlah aku perkara yg aku cintai dan jadikanlah kekuatanku dalam sesuatu
Yang kamu cintai ,yallah jauhilah aku dalam perkara yang kucintai, maka jadikanlah kegundahan hati ini Kepada perkara yg kamu cintai .

Rabu, 30 Januari 2019

Dahsyatnya Doa



Diceritakan bahwa Khalifah Al-Musta’in Billah (salah seorang Khalifah era Bani Abbasiyah) pernah mengirim utusan untuk memanggil Imam Nashar bin Ali rahimahullah (salah seorang ulama zaman itu), yang akan diangkatnya sebagai hakim agung kekhalifahan. Maka Abdul Malik wali kota Bashrah, dimana sang imam tinggal, mengundang dan mendorong beliau agar memenuhi kehendak Khalifah. Imam Nashar berkata kepada Wali kota: Izinkan aku pulang dulu untuk beristikharah kepada Allah. Kemudian beliaupun pulang pada tengah hari, dan saat sampai rumah beliau langsung melakukan shalat dua rakaat, lalu berdoa: Ya Allah, jika memang ada kebaikan di sisi-Mu yang telah Engkau sediakan untukku, maka wafatkanlah aku untuk menghadap-Mu. Sejenak berikutnya beliau lalu tertidur. Namun saat hendak dibangunkan (untuk shalat asar), didapati ternyata beliau telah jadi mayat! Subhanallah!.

                Cerita di atas adalah salah satu cerita inspiratif tentang dahsyatnya sebuah doa. Cerita yang mengkisahkan bagaimana seorang ulama bermunajat dan memita bantuan kepada Allah akan apa yang akan terjadi padanya. Melalui doa sang Imampun meminta dan memasrahkan urusannya kepada Allah, karna memang pada dasarnya seseorang tidak mempunyai daya dan kuasa sedikitpun walau sebiji dzarrah. Maka pada akhirnya sang Imampun menemui jawaban dari apa yang ia pinta kepada Allah.

                Doa adalah senjata orang mukmin. Doa merupakan kebutuhan kita yang hakikatnya merupakan hamba yang selalu bergantung pada Allah. Segala aktifitas kita sehari-hari, sejatinya tidak akan bisa kita lakukan jika tanpa bantuan Allah. Namun, sebagian dari kita masih banyak yang malas berdoa ataupun ragu dan tidak yakin pada doanya sendiri, padahal Allah telah berfirman,

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

                “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku. Maka, hendaknya mereka itu memenuhi (segala perintah)-Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.“ (Q.S Al-Baqarah: 186)
                Allah memerintahkan semua hambanya untuk memperbanyak doa dan permohonan kepadanya. Dalam masalah apapun itu, asal tidak keluar dari garis syariat, seorang hamba dituntun untuk senantiasa memperbanyak doa kepada Allah. Dari ayat di atas, dengan jelas Allah memberi kabar gemberi kepada semua hambanya bahwa apa yang mereka pinta kepadanya maka ia akan mengkabulakannya. Baik dikabulkan seperti yang hamba inginkan atau dengan memberikan sesuatu yang terbaik kepadanya.
                Seorang hamba yang sering berdoa kepada Allah merupakan indikasi betapa ia hamba yang sangat butuh pertolongan dari-Nya. Seorang hamba yang menyadari akan kehinaan dirinya disisi Allah. Orang yang selalu berdoa kepada Allah, pada hakikatnya ia sedang memperbanyak ibadah kepada-Nya. Dan tentunya hamba tersebut termasuk orang yang shalih yang barang tentu ia seorang insan yang begitu mencintai Dzat Yang Maha Mengabulkan doa.
          
Sejatinya manusia harus ridha dengan apa yang ia dapati, baik hal itu berupa kebaikan ataupun kejelekan, mencocoki hawa nafsu atau malah sebaliknya, karna semua yang ia raih semuanya adalah keputusan Allah, yang mana ridha terhadap keputusan Allah adalah hal yang wajib bagi semua hamba.

Maka dari hal itu, janganlah berputus asa ketika doa belum dikabulkan, yakinlah Allah Ta’ala akan mencintai orang yang banyak bermunajat kepada-Nya. kita harus yakin dengan dahsyatnya doa, semua hajat kita di kabulkan. biasakan kita selalu berdoa setelah selesai shalat dan di tengah malam. Bisa jadi doa Anda dikabulkan dalam bentuk lain atau dikabulkan di akhirat. Yang pasti, Allah Maha Mendengarkan lagi Mengabulkan doa. Wassalam.
Nuris Syamsi/Shallu


Selasa, 29 Januari 2019

Manfaat Berfikir bagi Otak


“ Berpikir adalah pekerjaan paling sulit, mungkin itu alasannya mengapa sedikit saja orang yang melakukannya “
_Henri Ford_

Pekerjaan berpikir adalah hal mudah, jikalau seandainya kita tak menilainya hal yang sulit, karena pekerjaan tersebut sudah menjadi kebiasaan rutin yang dilakoni ulama ulama terdahulu.  dan sanatlah banyak manfaat berfikir bagi otak. Sehingga banyak dari mereka yang melahirkan inovasi inovasi baru yang manfaatnya banyak telah kita rasakan di hari ini. Begitupun dengan Nabi Muhammad e yang di setiap waktu-nya beliau merutinkan kegiatan yang satu ini, sebagaimana yang telah dipaparkan oleh Syaikh Thahir bin Shalih al Jazairi dalam kitabnya yang bertajuk : al-Jawahir al-Kalamiah. Dan sebagian ulama berkata dalam kitab al-Syarkawi, bahwa berpikir ( bertafakkur )satu jam, lebih utama dari pada ibadah tujuhpuluh tahun lamanya. Dan ulama kredibel seperti al-Gazali memasukkan kebiasaan tersebut pada kitab beliau al-Bidayah wa al-Nihayah tepatnya di bab pembahasan kegiatan dan doa doa setelah shubuh. Dan karena memang Allah menciptakan langit dan bumi berikut segala isinya agar manusia berpikir seraya mengagungkan eksotisme yang Allah ciptakan.
                Ketika Barack Obama bertemu dengan David Cameron, mereka mendiskusikan tentang kurangnya waktu untuk berpikir “ mereka memenuhi jadwal saya dengan sangat padat “ kata Cameron. Obama menyahut “ yang terpenting dan yang perlu anda lakukan adalah memiliki waktu yang cukup banyak di siang hari, di mana kegiatan yang anda lakukan hanyalah berpikir “. Kedua Pemimpin tersebut sangatlah khawatir terjerat dalam hal-hal detail dan kehilangan waktu untuk berpikir. Apakah mungkin ini juga terjadi pada kita.....?
                Jeff Bezos, CEO Amazon berkata “ untuk berpikir tidak harus kita berdiam anteng, namun bisa juga kita menulis yang darinya akan menjelaskan jalan pikiran kita “ di samping menulis, dengan cara membaca kita juga bisa berpikir, berimajinasi, bernalar dan bertamasya dalam alam pikir kita serta menelurakan ide-ide baru dan kreatif. Begitu sangat pentingnya berpikir bagi kembang tumbuh otak kita. Namaun hanya saja pecandu untuk melakukannya sangat sedikit jumlahnya.
                Jeff Weiner berkata “ kalau anda tidak mengambil waktu bepikir secara proaktif, anda akan menjadi seorang yang maktif terhadap lingkungan, bukannya malah memengaruhi lingkungan.” Maka setidaknya kita harus menjadwalkan waktu untuk kita berpikir, mencari waktu tenang untuk melakukannya. Pagi hari adalah waktu sangat cocok untuk berpikir.
Selamat mencoba!!!
MUHAMMAD FAQIH Aktifis AnnajahSidogiri

Meninggalkan Maksiat Mulai Dari Menjaga Mata



                Meninggalkan Maksiat Mulai Dari Menjaga Mata-Mata diciptakan oleh Allah untuk kita, supaya dapat memberi petunjuk dari kegelapan, dapat membantu kita untuk memenuhi kebutuhan, melihat keaajaiban langit dan bumi, dan melihat keajaiban langit dan bumi termasuk tafaqqur tentang keesaan Allah seperti yang terdapat dalam surah Al Baqarah ayat 164
إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ(164)
Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan oleh allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkannya bumi setelah mati (kering), dan dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi (semua itu) sungguh, merupakan tanda – tanda (kebesaran allah) bagi orang – orang yang mengerti.
                Dikarenakan hal-hal tersebut, maka kita harus menjaga mata kita minimal dari 4 hal berikut :
1.     Melihat wanita yang bukan mahram
Tidak jarang, pemuda zaman ini yang menggunakan matanya untuk keperluan yang salah, mereka melihat wanita yang bukan mahramnya. Oleh karenanya, kita harus menjaga salah satu nikmat yang diberikan oleh allah pada kita, yakni nikmat melihat dengan cara tidak melihat wanita yang bukan mahram, meski mata, rambut dan kuku. Serta karena ada sabda nabi “barang siapa yang mengangan-angan wanita dengan melihat bajunya dari belakang sampai ia membayangkan tubuhnya, maka orang tersebut tidak akan mencium bau surga”.

Baca juga; Manfaat Berfikir Bagi Otak

2.       Melihat gambar yang menimbulkan syahwat
Sebenarnya, yang kedua ini tidak jauh dari yang pertama. Hanya saja, melihat gambar yang menimbukan syahwat dapat menimbulkan fitnah
3.       Memandang orang lain lebih rendah darinya
Seringkali orang yang derajat atau pangkatnya bertambah, memandang orang lain lebih rendah darinya. Semisal ada orang minum khamr, maka orang tersebut memandang bahwa bagaimana orang tersebut masuk surga. Sedangkan kita tidak tahu siapa nantinya yang su’ul khatimah atau khusnul khatimah
4.       Menggunakan mata untuk melihat aib orang lain
Allah berfirman dalam Al-Qur’an dalam surah An-Nur ayat 30
قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ(30)
Katakan lah kepada laki-laki yang beriman, agar menjaga pandangannya, dam memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebihsuci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.
oleh karena itu, alangkah baiknya kita jaga diri kita dari perkara yang dimurkai oleh allah dengan selalu meninggalkan maksiat mulai dari menjaga mata. dan selanjutnya kita juga harus meminta dan berdoa kepada allah agar dijauhkan dari semuanya itu.